A. Manusia dan Ilmu Pengetahuan Menurut Filsuf pra Al-Attas
Konsep tentang manusia dan pengetahuan sudah sejak lama menjadi perhatian para filsuf. Filsuf Yunani seperti Plato, misalnya, mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua unsur: jiwa (rohani) dan tubuh (jasmani). Dua unsur ini memiliki esensi dan karakteristik yang berbeda, yang unik. Jiwa adalah zat sejati yang berasal dari dunia sejati, dunia ide. Jiwa tertanam dalam tubuh manusia. Sementara tubuh manusia adalah zat semu yang akan hilang lenyap bersamaan dengan tubuh manusia. Sedangkan ide tetap abadi. Sesuatu yang abadi terperangkap di dalam suatu yang fana. Tubuh adalah penjara bagi jiwa.
B. Manusia dan Ilmu Pengetahuan menurut Al-Attas
Manusia, sebagaimana juga dikemukakan Al-Attas adalah binatang rasional (animal rational). Karena rasionalitas adalah penentu manusia, menurut Al-Attas, maka sekurang-kurangnya kita harus memiliki gagasan tentang arti “rasional”, dan harus sepakat bahwa hal itu mengacu pada nalar.8 Akan tetapi, karena mengacu ke barat, konsep rasio sendiri mengalami kontroversi dan sangat problematik. Karena, secara bertahap, konsep tersebut telah terpisahkan dari intelek atau “intelectus”.
Eksistensi manusia dapat dianggap mempunyai tempat-tempat yang berbeda, bergantung kepada beragam jangkauan operasi indra lahir dan batin. Tingkat-tingkat eksistensi ini adalah:
1. Eksistensi yang real atau nyata, yang merupakan eksistensi pada tingkat realitas objektif seperti dunia lahir.
2. Eksistensi yang dapat diindra, yang terbatas kepada fakultas-fakultas indera dan pengalaman inderawi, termasuk mimpi, penglihatan batin, dan ilusi.
3. Eksistensi khayali, yang merupakan eksistensi objek-objek pengalaman inderawi dalam imajinasi ketika objek-objek itu tidak ada dalam persepsi manusia
C. Ilmu Pengetahuan dan Proses Pencapaiannya
Menurut Al-Attas, berbeda dengan filsafat dan sains modern, kita memandang bahwa ilmu datang dari Allah SWT. Ilmu diperoleh melalui sejumlah saluran: indera yang sehat, laporan yang benar yang disandarkan pada otoritas, akal yang sehat, dan intuisi. Arti dari ungkapan “indera yang sehat” mengacu kepada persepsi dan pengamatan, yang mencakup lima indera lahiriah: perasa tubuh, pencium, perasa lidah, penglihat, dan pendengar, yang semuanya berfungsi untuk mempersepsi hal-hal partikular dalam dunia lahir ini. Terkait dengan pancaindra ini adalah lima indra batin yang secara batiniah mempersepsi citra-citra inderawi dan maknanya, menyatukan atau memisah-misahkannya, mencerap (mengkonsepsi) gagasan-gagasan tentangnya, menyimpan hasil-hasil pencerapan itu, dan melakukan inteleksi terhadapnya. Kelima indera batin ini adalah indera umum (common sense), representasi, estimasi, ingatan dan pengingatan kembali, dan imajinasi. Dalam hal ini, yang dipersepsi adalah “rupa” (form) dari objek lahiriah, yaitu representasi realitas lahiriah atau inderawi, bukan realitas itu sendiri.
SUMBER:
http://repository.uinbanten.ac.id/490/4/bab%20III.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar